Sapi 1,2 Ton dari Presiden untuk Karawang: Kurban untuk Rakyat, Siapa yang Paling Membutuhkan?


BRISIX.ID — Idul Adha tahun ini, Pemerintah Kabupaten Karawang kembali menerima seekor sapi kurban dari Presiden RI Prabowo Subianto. Bobotnya tak main-main: 1,2 ton. Ukurannya jumbo, sorot kameranya besar, dan tentu saja menjadi simbol perhatian negara kepada rakyat.

Bupati Karawang Aep Syaepuloh menyampaikan terima kasih atas bantuan tersebut. Ia menyebut, ini merupakan tahun kedua Karawang mendapat sapi kurban dari Presiden.

“Alhamdulillah tahun kedua kita menerima hewan kurban dengan berat 1,2 ton,” kata Aep, Rabu (27/5).

Di balik seremoni tahunan ini, pemerintah daerah memastikan proses penyembelihan akan dilakukan oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) bersertifikat. Langkah ini disebut untuk menjaga kualitas sekaligus memastikan distribusi daging berjalan sesuai syariat.

Namun pertanyaan pentingnya bukan hanya soal seberapa besar sapi itu, melainkan: sejauh mana distribusinya benar-benar menjangkau warga yang paling membutuhkan?

Pemkab Karawang menyebut daging kurban akan diprioritaskan untuk masyarakat di wilayah utara Karawang, daerah yang selama ini masih lekat dengan persoalan kemiskinan, akses layanan dasar, hingga kerentanan pangan.

Kawasan pesisir yang kerap luput dari sorotan pembangunan itu kembali menjadi tujuan distribusi bantuan.

“Insyaallah akan kita distribusikan khususnya di wilayah Utara,” ujar Aep.

Tak hanya mengandalkan bantuan Presiden, Pemkab juga menjalankan program “ASN Berbagi”. 

Sebanyak 25 ekor sapi dari kalangan aparatur sipil negara disiapkan untuk disembelih dan dibagikan ke berbagai titik di Karawang.

Program ini juga dikaitkan dengan isu stunting dan pemenuhan gizi keluarga rentan. Pemerintah mengklaim ada sekitar 5.200 paket daging yang disiapkan untuk ibu menyusui dan anak-anak dengan indikasi gangguan pertumbuhan.

Di satu sisi, pembagian daging kurban memang bisa menjadi bantuan pangan jangka pendek. Tapi di sisi lain, persoalan stunting sejatinya bukan sekadar soal ada atau tidaknya daging setahun sekali. Ia berkaitan dengan akses pangan bergizi setiap hari, sanitasi, layanan kesehatan, hingga kondisi ekonomi keluarga.

Karena itu, distribusi kurban semestinya tidak berhenti sebagai agenda simbolik tahunan atau panggung pencitraan pejabat. 

Yang lebih penting adalah memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang selama ini paling sering berada di antrean paling belakang: warga miskin, ibu rentan, dan anak-anak yang hidup dalam kekurangan.

Pemkab juga menyebut distribusi akan menyasar sejumlah wilayah seperti Manggung, Syekh Quro, hingga Tempuran. Setiap penerima dijanjikan mendapat jatah sekitar 8 ons sampai 1 kilogram daging.

Bagi sebagian keluarga, mungkin itu cukup untuk menikmati lauk mewah setahun sekali. Tapi bagi banyak warga lain, Idul Adha kembali mengingatkan satu hal: ketimpangan masih nyata, bahkan di tengah perayaan berbagi.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama